Nyanyian Berbagi Derita

Juli 2003,

Sumaryanto, jalan2 di Taman Hiburan Sriwedari. Lagit cerah walaupun habis hujan gerimis. Capek lihat2 cewek, dan nonton hiburan di Joglo Sriwedari, ia lalu berjalan keluar.

Tanpa sengaja matanya melihat seseorang yang sedang duduk di emperan Bank Perkreditan Rakyat Sriwedari, di pinggir jalan Slamet Riyadi. Hatinya senang, “Wah! ada teman ngobrol nih!”

Orang itu, seorang Pengamen gelandangan , berjaket hijau tua berbentuk mirip jubah. Ia tampak menyandarkan gitarnya. Rambutnya sedikit panjang namun ia kucir. tampaknya ia baru saja datang. Ia memang biasa istirahat disitu kalau malam tiba saat itu.

“Hey Mas Bob, baru datang?” tanya Sumaryanto. Di jawab “iya”.

Selang beberapa saat kemudian keduanya asyik mengobrol.

Namun tiba2 Bobby tertegun dan diam. Sumaryanto heran. “ada apa Mas? koq diam?”

Bobby tak menyahut hanya pandangannya tajam melihat ke seberang jalan. Di sana tampak seorang wanita, gelandangan juga tampaknya, menggendong seorang anak dan masih ada lagi seorang anaknya yang lebih besar, seusia Taman kanak2.

“Kamu lihat itu? Ini sudah jam dua belas malam tapi mereka masih saja mencari nafkah, tanpa kenal lelah. Lihat, mereka tidak mengemis, tapi mengumpulkan sampah”. Kata Bobby. Sumaryanto mengiyakan dan ikut pula memperhatikan wanita itu. Dalam hatinya ia mengerti maksud perkataan Bobby. memang amat mengharukan bila kita tahu bagaimana orang lain banyak yang lebih susah daripada kita namun kita tak bisa menolongnya.

Entah apa yang dipikirkan Bobby, ia lalu mengambil gitarnya lalu memetiknya dan bernyanyi. Lagu yang ia nyanyikan adalah lagunya Ebiet G. Ade, namun Sumaryanto belum pernah mendengarnya.

Tapi lagu itu lain kali ia minta syair dan liriknya sekalian dan ia buat tulisan ini.

Istriku marilah kita tidur, hari telah larut malam

lagi sehari kita lewati, sementara nasib kian tak pasti

lihatlah anak kita tertidur menahankan lapar

Erat memeluk bantal dingin pinggiran jalan

Wajahnya kurus pucat matanya dalam

istriku marilah kita berdoa sementara biarkan lapar terlupa

seperti yang pernah ibu ajarkan Tuhan bagi siapa saja

meskipun kita pengemis pinggiran jalan

doa kitapun pasti Ia dengarkan, bila kita pasrah diri tawakal.

Esok hari, perjalanan kita masih sangatlah panjang

mari tidurlah lupakan sejenak beban derita lepaskan

la..la…la..la… dengarkanlah nyanyi dari seberang jalan

la..la…la…la.. usah kau tangisi hidup kita hari nanti

Tuhan selamatkanlah istri dan anakku dari iri dan dengki

kepada yang berkuasa dan senang ditengah kelaparan

oh hindarkanlah mereka dari iri dan dengki

kuatkanlah jiwa mereka bimbinglah di jalanmu

bimbinglah di jalanmu.

(maaf kalau syairnya ada kekurangan soalnya tidak tahu sih)

lagu di atas sering dinyanyikan Mas Bobby “Jaguar” bila mengamen.

posting by: Sumaryanto Pemda Solo.

%d bloggers like this: